sejarah perkembangan ekologi manusia di indonesia

SEJARAH PERKEMBANGAN EKOLOGI 1. Sejarah dan Pengertian Ekologi 1.1. Sejarah Ekologi Meski sebelum masehi istilah ekologi belum populer, akan tetapi perhatian manusia khususnya para filsuf pada masa itu tentang interaksi (hubungan timbal-balik) makhluk hidup dengan lingkungannya telah ada. Hal ini bisa ditelusuri dalam sejunlah naskah karya beberapa filsuf pada masa pra-masehi. Lewat penelusuran naskah-naskah itu, kita bisa mengetahui bahwa Hipocrates, Aristoteles, dan filsuf lainnya telah mengupas dan memberikan perhatian khusus terhadap interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Menurut beberapa catatan, ekologi sebagai sebuah ilmu sesungguhnya lahir sebagai akibat dari perkembangan ilmu Natural History (ilmu sejarah alam) pada kurun abad 16-17. Pada waktu itu, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, salah satu fokus ilmu Natural History yang mengulas tentang keterkaitan organisme dengan lingkungannya pun berkembang. Selanjutnya, karena ulasan tentang keterkaitan organisme dengan lingkungannya ini dari waktu ke waktu kian sistematik, kian analitik dan objektif maka lahirlah disiplin ilmu baru yang bernama ekologi. Dalam proses perkembangan ilmu Natural History tersebut, muncullah Ernest Haeckel (1834-1919), seorang ahli biologi asal Jerman, yang tercatat dalam sejarah sebagai orang yang pertamakali menggunakan istilah ekologi pada pertengahan 1860-an. Darwin, dalam buku ditahun 1859, On The Origin of Species, menyatakan bahwa "tumbuhan dan hewan, seringkali terpisah di alam, terikat bersama dalam sebuah jaring hubungan kompleks." Kurang lebih 40 tahun setelah itu, sekitar tahun 1900, legitimasi ekologi sebagai sebuah ilmu pun kian mantap. Kemantapan tersebut timbul karena salah saktu faktornya adalah pesatnya gerakan yang bertujuan untuk memelihara peradaban, yang salah satu unsur pentingnya adalah lingkungan hidup. Pada era tersebut muncul kesadaran bahwa peradaban dimana pun berada tidak akan bisa bertahan jika terus-menerus mengabaikan permasalahan lingkungan. Namun sayangnya, meski berkembang pesat, gerakan-gerakan tersebut belumlah bisa mencapai hasil yang maksimal. Penyebabnya tak lain karena hampir di seluruh penjuru dunia pada masa itu tengah berada dalam kecamuk perang dunia. Selanjutnya Eugene Odum meneruskan dan memperjelas definisi dan konsep ekologi, dan mengkompilasi na dalam daftar 20 prinsip ekologi dalam artikelnya: Great Ideas in Ecology for the 1990s, (1992). termasuk thermodinamika, seleksi alam, perilaku siklis dan hubungannya. 5 hal terakhir dalam daftarnya Odum berbubungan dengan ekologi manusia dan interface ekologi-ekonomi, yang dia pertimbankan perlu menjadi fokus utama dalam lingkungan pendidikan dalam memandang meningkatnya dampak global yang begitu serius sebagai hasil dari aktifitas manusian (odum ,1992) Pada masa yang sama, ekologist lainnya seperti Aldo Leopold dan Rachel Carson, mulai menyadari perlunya konserbasi ekosistem. dan untuk mengeksplorasi hubungan antaran manusia n dan penggunaan lahan, sebagai hal yang penting seperti isu polusi. Akhir dari abad 20 membawa perubahan cara ekologi dipandang. Pollan dan Orr mengeksplorasi bidang ekologi di kehidupan kita sehari-hari. Pollan yang mengilustrasikan bagaimana manusian dan tumbuhan berkoevolusi dan membentuk hubungan satu sama lain, mendiskusikan prinsip ekologi dalam konteks perkebunan modern dalam bukuknya "Second Nature: A Gardener's Education (Pollan, 1993). Orr, memfokuskan pada sistem pendidikan, mengatakan :tujuan revolusi dari pendidikan adalah menghubungkan kembali generasi muda ke dalam habitat dan komunitas mereka. ruangan kelas adalah ekolgi dari komunitas sekitarnya, bukan empat dinding dari sebuah pendidikan tradisional (orr, 1991). Orr menawarkan tujuan pendidikan ekologi untuk pelajar, dia merasa bahwa tidak ada pelajar yang lulus tanpa pemahaman dasar yang komprehensif. Sebuah contoh proses pendidikan integral masuk ke dalam konsep ekologi manusia, yang menggambarkan manusian sebagai bagian dari lingkungan. dan bukan hanya sosok yang tidak mempengaruhinya. Green, et al., (1996) mendefiniskan ekologi manusian sebagai hubungan antarai manusian dan lingkungan. Cultural ekologi mempelajari hubungan alam, manusian dan kaitannya dengan dengan tanah. morris (1998) mengatakan bahwa tipe ekologi ini, menekankan budaya dan telah memberikan dampak budaya dan aspek yang berbeda dari seni, nilai, buaya, sistem kepercayaan dari berbagai grup entik yang berbeda. Kira-kira 23 tahun setelah Perang Dunia II usai, barulah gerakan-gerakan lingkungan hidup kembali mengemuka. Pada April 1968, sejumlah 30 orang ahli dari pelbagai negara bertemu di Acadenua dei Lincei, Roma, untuk membahas masalah lingkungan hidup. Satu dari sekian faktor pendorong lahir pertemuan itu adalah merebaknya kekhawatiran para tokoh dunia terutama ilmuwan terhadap teknologi yang memiliki daya rusak lingkungan yang sangat tinggi. Tentunya aura traumatik atas dampak bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang, masihlah mengental dan menjadi perangsang lahirnya sebuah gagasan tentang bagaimana mengelola kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) agar tak berdampak negatif terhadap lingkungan hidup, karena pada hakekatnya merusak lingkungan hidup sama saja dengan merusak masa depan. Di satu sisi, iptek hadir sebagai alat bagi manusia untuk meningkatkan kesejahteraannya dan memberikan sekian kemudahan. Tetapi di sisi lain, jika iptek tersebut tak dikontrol maka alam yang menjadi tempat tinggal dan sumber pemenuh kebutuhan manusia akan menjadi rusak. Sadar akan pentingnya mengelola kemajuan iptek dan industri secara bijaksana, maka pada Juni 1972, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelenggarakan United Nations Conference on Human Environment (Konferensi PBB untuk Lingkungan Hidup). Dalam acara yang berlangsung di Stockholm, Swedia, tersebut hadir 113 utusan negara-negara anggota PBB. Ratusan delegasi itu berkumpul guna memperbincangkan serta mencari jalan keluar atas permasalahan lingkungan hidup yang mengemuka. Dalam pertemuan yang monumental itulah disepakati bahwa tanggal 5 Juni ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. 10 tahun setelah berlangsungnya Konferensi Stockholm itu, Indonesia pun tampil di panggung utama gerakan pelestarian lingkungan hidup skala internasional. Hal ini ditandai dengan terpilihnya Bali sebagai tempat Konferensi Lingkungan Hidup se-Dunia pada bulan Oktober 1982. Selain menjadi penanda eksisnya Indonesia dalam kancah gerakan pelestarian lingkungan hidup skala internasional, ternyata konferensi di Bali tersebut dijadikan momentum sekaligus spirit bagi Indonesia dalam mencanangkan Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH). 1.2. Pengertian Ekologi Akar dari ilmu ekologi adalah biologi. Secara etimologis (menurut asal kata) istilah ekologi berasal dari 2 kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni oikos yang berarti rumah, dan logos yang berarti ilmu. Jika ditilik dari 2 kata tersebut, maka secara harfiah ekologi bermakna sebagai ilmu tentang rumah, atau ilmu tentang tempat tinggal. Atau bisa pula makna harfiahnya adalah ilmu tentang makhluk hidup dengan rumahnya, dimana rumah yang dimaksud dalam hal ini adalah bumi. Dalam mengkaji hubungan timbal-balik antara makhluk hidup dengan “rumahnya”/lingkungannya, ekologi membatasi diri hanya pada apa yang ada, dan apa yang terjadi di alam, dengan tidak melakukan percobaan. Sebagian pakar menyatakan, ekologi adalah ilmu yang mempelajari pengaruh lingkungan terhadap jasad hidup. Ada juga yang mengatakan, ekologi merupakan ilmu mempelajari hubungan antara tumbuhan, hewan dan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup/tinggal, sehingga pertanyaan yang mendasar dalam ekologi adalah bagaimana kehidupan para makhluk hidup yang dimaksud dan mengapa mereka ada di situ. 2 Orang pakar lingkungan hidup, yakni Odum dan Cox, pada tahun 1971 berpendapat bahwa ekologi merupakan sebuah studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam, dimana manusia adalah juga bagian dari ekosistem itu sendiri. Dalam definisi Odum dan Cox, terdapat 2 kata kunci yang memegang peranan penting serta menjadi semacam penuntun bagi peminat ekologi dan pemerhati lingkungan. 2 kata yang dimaksud adalah “struktur” dan “fungsi”. Menurut Odum dan Cox, pengertian istilah struktur dalam ranah ilmu ekologi mengandung pengertian tentang suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu. Adapun pengertian “suatu keadaan” dalam definisi Odum dan Cox itu meliputi beberapa hal seperti; kerapatan/kepadatan, biomasa, penyebaran potensi unsur-unsur hara (materi), energi, faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan keadaan sistem tersebut. Sedangkan pengertian fungsi, menurut Odum dan Cox adalah gambaran tentang hubungan sebab-akibat yang terjadi dalam sistem. Jadi, menurut Odum dan Cox, inti sari bahasan ekologi adalah mencari tahu sedalam-dalamnya tentang bagaimana fungsi organisme di alam. Sementara itu, dalam bukunya yang berjudul Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, pakar lingkungan hidup Indonesia Prof. Dr. Otto Soemarwoto, Phd., mendefinisikan ekologi sebagai ilmu tentang hubungan timbal-balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya. Dari definisi yang dilontarkan oleh Otto Soemarwoto tersebut, sebenarnya kita sudah bisa menentukan beberapa kata kunci bagi pemahaman mendasar tentang apa itu Ekologi. Kata kunci yang dimaksud, yakni “makhluk hidup”, “hubungan timbal-balik (interaksi)”, dan “lingkungan hidup”. Jelaslah bahwa ekologi adalah ilmu yang mempelajari mahluk hidup dalam rumah tangganya atau ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara mahluk hidup sesamanya dan dengan komponen di sekitarnya. Dengan demikian seorang ahli ekologi juga menaruh minat kepada manusia, sebab manusia merupakan spesies lain (mahluk hidup) dalam kehidupan di Biosfer secara keseluruhan. Selanjutnya dengan adanya gerakan kesadaran lingkungan di negara maju sejak tahun 1968 sedangkan di Indonesia sejak tahun 1972, dimana setiap orang mulai memikirkan masalah pencemaran, daerah -daerah alami, hutan, perkembangan penduduk, masalah makanan, penggunaan energi, kenaikan suhu bumi karena efek rumah kaca atau pemanasan global, ozon berlubang dan lainnya telah memberikan efek yang mendalam atas teori ekologi. Ekologi merupakan disiplin baru dari biologi yang merupakan mata rantai fisik dan proses biologi serta bentuk-bentuk yang menjembatani antara ilmu alam dan ilmu sosial. 2. Hubungan Ekologi dengan Ilmu Lainnya Ekologi adalah bagian dari biologi, namun ekologi tidak dipisahkan dari ilmu-ilmu lainnya. 1.) Hubungan Ekologi dengan Ilmu Alam Lainnya a. Ilmu Fisika berperan karena dalam ekologi faktor fisik seperti: sinar matahari, perubahan suhu, daya serap tanah, hujan dan lain-lain terlibat. b. Ilmu Kimia berperan karena dalam ekologi proses kimia seperti sintesis dan analisis kimiawi dalam tubuh dan di luar tubuh, makhluk hidup merupakan bagian yang penting. c. Ilmu Bumi dan Antariksa juga berperan karena ekologi berkaitan dengan berbagai proses yang dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa siang-malam, musim kemarau dan musim hujan, musim panas-gugur-salju-dan semi, gravitasi, endapan aluvial, vulkanik, erosi, abrasi, sedimentasi, marin, dan lain-lain. 2.) Hubungan Ekologi dengan Ilmu Sosial Ilmu sosial sangat penting bila komponen manusia dimasukkan dalam cakupan ekosistem, atau bila kita mempelajari peran ekosistem terhadap kehidupan manusia. 3. Pengelompokan Ekologi Jika kita melandaskan fokus ekologi kepada kata kunci “makhluk hidup”, maka sebagai sebuah ilmu, ekologi akan terbagi dalam 3 cabang besar, yakni ekologi manusia, ekologi tumbuhan, dan ekologi hewan. Sedangkan bila kata kunci “lingkungan hidup” kita maknai sebagai “rumah” atau tempat tinggal makhluk hidup, dan selanjutnya kata kunci ini kita jadikan sebagai pijakan mengkategorisasi ilmu ekologi, maka kita akan mendapatkan cabang ilmu ekologi berdasarkan habitat (tempat hidup). Contoh cabang-cabang ekologi berdasarkan habitat, antara lain; ekologi darat atau ekologi terestrial, ekologi bahari atau kelautan, ekologi padang rumput, ekologi perairan tawar, ekologi estuaria (muara sungai) dan lain-lain. 4. Proses Ekologi Salah satu kata kunci dalam definisi ekologi yang dilontarkan Otto Soemarwoto adalah “interaksi” (hubungan timbal-balik). Jika direnungkan dengan dalam, maka akan kita sadari bahwa apa yang terjadi di dunia ini sejatinya adalah hubungan timbal-balik atau interaksi. Begitu pula jika mau merenung dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati, maka kita akan sadar bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Jika kita amati secara mendalam, kita pun akan memahami bahwa kehidupan kita ini sesungguhnya disanggah oleh banyak “pihak”, seperti tumbuhan, hewan, air, tanah, oksigen, dan lain-lain. Interaksi di antara semua unsur tersebut tidak hanya akan menghasilkan sebuah harmoni dan keseimbangan, tetapi lebih daripada itu, sesungguhnya interaksi tersebut adalah penopang kehidupan kita. Ini berarti, baik-buruknya interaksi tersebut akan mempengaruhi baik-buruknya hidup kita. Atau bisa pula kita maknai, bahwa peran kita sebagai manusia terhadap interaksi tersebut akan mempengaruhi kehidupan kita sendiri. Dalam ekologi, interaksi semua “pihak” itu disebut sebut sebagai proses ekologi. Berangkat dari pemahaman ini, maka bisa pula dikatakan bahwa baik-buruknya kualitas hidup kita sebagai makhluk hidup sangatlah tergantung pada baik-buruknya proses ekologi. Jika kita tak segan bertualang ke banyak tempat (terutama kawasan konservasi sumberdaya alam), maka kita akan temukan sedemikian banyaknya interaksi (hubungan timbal-balik). Baik itu interaksi antar makhluk hidup, maupun interaksi antara makhluk hidup dengan komponen tak hidup (abiotik). Semua interaksi itu pada hakekatnya adalah proses ekologi. Dari sebegitu banyaknya proses ekologi, terdapat beberapa proses ekologi yang dalam kacamata ilmu ekologi dipandang sebagai proses ekologi yang penting. Adapun proses ekologi yang penting tersebut, antara lain adalah fotosintesis, penambatan nitrogen, pengendalian populasi, penyerbukan, kemampuan memperbaharui diri, dan fungsi hidro-orologis. Dari semua proses ekologi penting tersebut, menurut Otto Soemarwoto, semuanya memiliki sumber energi yang sama, yakni matahari. 4.1. Fotosintesis Fotosintesis adalah proses ekologi yang sangat penting, bahkan Otto Soemarwoto menyebutnya sebagai proses yang sangat esensial (inti) untuk menjaga kelangsungan hidup di bumi. Prosesi esensial ini dilakukan oleh tumbuhan hijau. Dalam prosesi ini, tumbuhan hijau mengubah energi matahari menjadi energi kimia. Dalam mengubah energi matahari menjadi energi kimia tersebut, tumbuhan hijau menggunakan zat-zat kimiawi yang terkandung dalam bahan organik tumbuhan. Salah satu produk prosesi penting itu adalah oksigen (O2). Dari produk ini, kita jadi sadar betapa pentingnya proses fotosintesis itu, karena dari fotosintesis inilah dihasilkan oksigen yang menjadi kebutuhan penting bagi makhluk hidup. Tak hanya menyumbangkan oksigen, fotosintesis pun berperanan penting terhadap pemenuhan kebutuhan pangan manusia atas ikan. Dalam kehidupan air, ikan akan mati jika tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Pemenuhan kebutuhan oksigen di dalam kehidupan dalam air ini, ditopang oleh proses fotosintesis yang dilakukan oleh plankton. Berhentinya proses fotosintesis juga akan mengakibatkan punahnya manusia. Cobalah bayangkan! Jika proses fotosintesis berhenti maka produksi oksigen akan terhenti. Terhentinya produksi oksigen ini akan mengganggu pembentukan gas ozon (03)sebagai tameng bagi bumi terutama manusia dari radiasi sinar ultraviolet (UV) matahari. Jika ozon tak lagi ada maka UV akan meradiasi bumi hingga keadaan di bumi akan kembali pada pada kondisi yang pernah terjadi pada 4 milyar tahun lalu. Suatu kondisi dimana kehidupan hanya ada di kawasan air dalam, karena kawasan itulah yang aman dari radiasi UV. 4 milyar tahun yang lalu, bumi yang kita tempati ini adalah planet yang belum memiliki mantel ozon. Hal itu terjadi karena belum ada proses fotosintesis yang berperanan dalam menghasilkan oksigen sebagai bahan penting pembentuk ozon. Bumi 4 milyar tahun yang lalu adalah sebuah planet yang tidak bisa ditempati manusia karena komponen serta interaksi ekologis yang menopang kehidupan manusia belum ada. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa merusak kawasan hijau berati pula merusak fotosintesis, merusak fotosintesis sama saja dengan merusak ozon, merusak ozon sama saja dengan memusnahkan ras manusia di atas bumi! 4.2. Penambatan Nitrogen Jika disimak dari bagan rantai makanan maupun piramida makanan, maka sesungguhnya kita (manusia) dengan hewan adalah konsumen. Karena kita konsumen maka kita membutuhkan produsen sebagai pemenuh kebutuhan kita. Keberadaan tumbuhan sebagai produsen dan pemenuh kebutuhan kita tidaklah mungkin ada jika tanah tempat hidupnya tidak ada. Sementara itu, tanah tidaklah bisa berperan sebagai tempat hidup tumbuhan jika tidak lagi memiliki unsur Nitrogen. Dari uraian tersebut, terlihat jelas betapa pentingnya nitrogen bagi keberlangsungan hidup berbagai jenis makhluk. Jika tanah yang memiliki unsur nitrogen adalah pilar penting yang menyangga kehidupan, maka logikanya proses yang menyebabkan nitrogen bisa sampai ke dalam tanah merupakan proses yang penting pula. Dalam ilmu ekologi proses tersebut diistilahkan sebagai proses penambatan atau penangkapan nitrogen. Di alam, proses penambatan nitrogen dilakukan secara alamiah oleh beberapa jenis bakteri dan ganggang. Salah satu contoh makhluk hidup yang bertugas menambat nitrogen adalah bakteri azotobacter, bakteri rhizobium dan ganggang anabaena. Bila ketahanan pangan kita sebagai bangsa Indonesia ditinjau dari keberadaan beras sebagai bahan makanan pokok, lalu keberadaan beras tersebut kita kaitkan dengan kualitas kesuburan sawah, maka akan tampak jelas betapa pentingnya prosesi penambatan nitrogen terhadap ketahanan pangan kita. Dalam pengamatan Otto Soemarwoto, dari proses penambatan nitrogen yang terjadi secara alamiah di sawah, akan diperoleh unsur nitrogen penyubur tanah hingga 80 kg per hektar per musim. Bila dibandingkan dengan pupuk buatan pabrik, maka nitrogen sebanyak itu setara dengan 175 kg urea. Namun, perlu diingat, meski nitrogen sangat penting bagi kesuburan tanah, tidak lantas pemberian nitrogen secara berlebihan bisa dikatakan baik. Pemberian pupuk yang mengandung nitrogen secara berlebihan justru akan menimbulkan pencemaran, yang pada gilirannya nanti justru mematikan bagi makhluk penambat nitrogen. 4.3. Penyerbukan Pengertian sederhana tentang penyerbukan, adalah proses menempelnya tepung sari pada kepala putik bunga. Tepung sari merupakan alat kelamin jantan, dan putik adalah alat kelamin betina. Setelah terjadi penyerbukan, tepung sari membuahi sel telur yang ada dalam bakal buah. Lewat penyerbukan inilah kebutuhan konsumsi hewan dan manusia terhadap buah maupun pangan nabati terpenuhi. Lewat penyerbukan pula kelestarian atau keberlangsungan hidup beberapa jenis tumbuhan—sebagai produsen—terjaga. Yang berarti pula kesinambungan rantai makanan juga terjaga. Sebab itu, tidaklah berlebihan jika penyerbukan disebut sebagai salah satu pilar penting penopang kehidupan. Dan, tidak berlebihan pula jika dikatakan bahwa hewan (terutama serangga) yang berperan dalam penyerbukan merupakan komponen penting dalam sebuah proses ekologi. Ini artinya, mengganggu hewan penyerbuk sama saja dengan mengganggu pilar penopang kehidupan 4.4. Daur Hidrologi Pentingnya air tidak perlu lagi diperdebatkan, karena memang kenyataannya secara kodrati semua makhluk hidup tidak dapat hidup tanpa air. Tetapi air juga akan menjadi bencana jika daur hidrologinya terganggu. Dengan begitu, mengganggu daur hidrologi air sama artinya dengan mengundang datangnya bencana. Secara mudah daur dapat dipahami sebagai prosesi atau perjalanan yang memiliki beberapa tahapan, dimana pada akhirnya tahap akhir akan kembali lagi ke tahap awal. Kalaulah hujan dianggap sebagai tahap awal dari daur air, maka peristiwa jatuhnya air dari langit dalam peristiwa hujan adalah titik awal perjalanan air. Selanjutnya, cerita perjalanan air ini pun berkembang. Sebagian yang air jatuh dari langit, berkelana di atas tanah dan meresap ke dalamnya, sebagian lagi mengalir lewat sungai menuju laut. Air yang meresap di dalam tanah, sebagian keluar lagi melalui mata air menuju sungai, sebagian lagi terjebak di dalam tanah menjadi cadangan air bagi manusia. Pada waktu tertentu sebagaian air tersebut menguap oleh sinar matahari, berubah bentuk menjadi uap air, hingga kemudian terkumpul menjadi sekelompok awan di langit yang menunggu giliran untuk jatuh lagi sebagai air hujan. Begitulah siklus atau daur air. Pada batasan tertentu, hutan dan bentuk vegetasi lain, mempunyai peranan penting dalam daur ini. Dengan adanya hutan, kekuatan “air permukaan” dapat diminimalisir karena lantai hutan adalah penyerap air yang lebih baik daripada lantai-lantai beton buatan manusia. Kemampuan hutan menyerap air ini bermanfaat untuk mengurangi resiko terjadinya banjir. Selain itu, hutan juga memiliki kemampuan untuk “menjebak” atau “menangkap” air, sehingga pasokan air terjamin. Oleh sebab itu, merusak hutan berarti merusakan kawasan tangkapan air, yang nantinya berujung pada krisis air. 5. Habitat Habitat adalah tempat suatu organisme hidup. Habitat suatu organisme dapat disebut “alamat” organisme itu. Semua organisme mempunyai tempat hidup. Misalnya, ikan tuna hidup dalam air laut, ikan mas dalam perairan tawar, durian di tanah darat dataran rendah, enau di tanah darat dataran rendah sampai pegunungan, eceng gondok di perairan terbuka dan sebagainya.Makhluk hidup dapat memiliki lebih dari satu habitat, Misalnya habitat kodok adalah di darat setelah dewasa, di air bila masih menjadi berudu atau telurnya. Setiap makhluk hidup mempunyai habitat yang sesuai dengan kebutuhannya. Apabila terjadi gangguan atau perubahan yang cepat makhluk tersebut mungkin akan mati atau pergi mencari habitat lain yang cocok. Misalnya jika terjadi arus terus-menerus di pantai habitat bakau, dapat dipastikan bakau tersebut tidak akan bertahan hidup. Akan tetapi jika terjadi perubahan secara perlahan atau berevolusi, lama kelamaan makhluk yang ada di situ akan berusaha melakukan penyesuaian diri, atau beradaptasi yang akhirnya mungkin akan terjadi jenis baru. Istilah habitat dapat dipakai untuk menunjukkan tempat tumbuh sekelompok organisme dari berbagai jenis yang membentuk suatu komunitas. Misalnya, kita boleh mengunakan istilah habitat padang rumput, habitat hutan mangrove, dan sebagainya. Dalam hal ini habitat sekelompok organisme mencakup lingkungan abiotik dan lingkungan biotik. 6. Relung (Niche) Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris, dengan pengertian “status fungsional suatu organisme dalam komunitas tertentu”. Dalam penelaahan suatu organisme, kita harus mengetahui kegiatannya, terutama mengenai sumber nutrisi dan energi, kecepatan metabolisme dan tumbuhnya, pengaruh terhadap organisme lain bila berdampingan atau bersentuhan, dan sampai seberapa jauh organisme yang kita selidiki itu mempengaruhi atau mampu mengubah berbagai proses dalam ekosistem. Relung (niche) adalah posisi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu, yang merupakan akibat adaptasi struktural, tanggap fisiologis serta perilaku spesifik organisme itu. Jadi relung suatu organisme bukan hanya ditentukan oleh tempat organisme itu hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang dimilikinya. Dapat dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi atau cara hidup organisme dalam lingkungan hidupnya. Pengetahuan tentang relung suatu organisme sangat perlu sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama. Untuk dapat membedakan relung suatu organisme, maka perlu diketahui tentang kepadatan populasi, metabolisme secara kolektif, pengaruh faktor abiotik terhadap organisme, pengaruh organisme yang satu terhadap yang lainnya. Banyak, organisme, khususnya hewan yang mempunyai tahap-tahap perkembangan hidup yang nyata, secara beruntun menduduki relung yang berbeda. Umpamanya jentik-jentik nyamuk hidup dalam habitat perairan dangkal, sedangkan yang sudah dewasa menempati habitat dan relung yang samasekali berbeda. Relung atau niche burung adalah pemakan buah atau biji, pemakan ulat atau semut, pemakan ikan atau kodok. Niche ada yang bersifat umum dan spesifik. Misalnya ayam termasuk mempunyai niche yang umum karena dapat memakan cacing, padi, daging, ikan, rumput dan lainnya. Ayam merupakan polifag, yang berarti makan banyak jenis. Makan beberapa jenis disebut oligofag, hanya makan satu jenis disebut monofag seperti wereng, hanya makan padi. Apabila terdapat dua hewan atau lebih mempunyai niche yang sama dalam satu habitat yang sama maka akan terjadi persaingan. Dalam persaingan yang ketat, masing-masing jenis mempertinggi efisiensi cara hidup, dan masing-masing akan menjadi lebih spesialis yaitu relungnya menyempit. Akan tetapi bila populasi semakin meningkat, maka persaingan antar individu di dalam jenis tersebut akan terjadi pula. Dalam persaingan ini individu yang lemah akan terdesak ke bagian niche yang marginal. Sebagai efeknya ialah melebarnya relung, dan jenis tersebut akan menjadi lebih generalis. Ini berarti jenis tersebut semakin lemah atau kuat. Makin spesialis suatu jenis semakin rentan makhluk tersebut. Referensi •Prof. Dr. Otto Soemarwoto, Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1997 •Eko Teguh Paripurno dkk, Petunjuk Pengamatan Kawasan Bagi Pecinta Alam, Kappala Indonesia, Yogyakarta, 1999 •Anonim, Buku Materi Latgab Konservasi Pecinta Alam Jawa Timur 2004, Mapensa Faperta Unej, Jember, 2004 •Dani Wahyu Moenggoro dkk, Menjadi Environmentalis itu Gampang!, Walhi, Jakarta, 2006 •Anonim, Materi Kuliah 1 Pengantar Ekologi, Webblog Unpad, 2008

1 komentar: